Mantra
subuh terucap gemetar
Barisan
doa menjalar pada nadi
Tiada
habis dimakan waktu
Semangat
berdarah di setiap hamparan
Kulihat
di kebun tidak luas tidak juga sempit
Oh,
dia sahabatku sejak dahulu
Selalu
mengusahakan pemanis hidup
Jarang
orang mau berkenalan dengan sahabatku
Mantra dzuhur terucap gemetar
Barisan doa masih menjalar pada nadi
Aku terheran melihatnya. Lihat. Lihat lagi
Mungkinkah tidak pernah terdengar isaknya olehmu?
Ketegaran tak mampu memberontak keadilan
Masih juga orang tak mau berkenalan
Tuhan, kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia sahabatku.
Dia sahabatku. Dia sahabatku
Mantra
asar. Kucari dia sudah tak bersuara
Barisan
doa masih tetap menjalar pada nadi
Oh
aku tahu, dia hanya bicara pada hati
Lisan
sudah tidak lagi mampu mengujar
Tuhan,
kulihat dia terkapar lemah
Dia
bawa hasil tani untuk dinda kesayangan
Tuhan,
kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia
sahabatku. Dia sahabatku. Dia sahabatku
Sedari awan sampai bengi
Buliran keringat membasahi kebun tebu
Tuan yang kutahu kau amat wibawa dan bijaksana
Aduh suaraku hampir kering
Kuceritakan padamu tuan
Sedari subuh tak sebutirpun melewati kerongkongan
Hanya racikan hasil tani membasahinya
Meriak muka membasahi jiwanya
Kedermawananmu
lebih dari aku seorang anak kecil
Kedermawananmu
lebih dari sahabatku sang petani kecil
Kau
bisa berikan sebanyak yang kamu mampu
Semampumu
bukan semaumu
Hanya
itu harapan dalam syair keadilan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar