Selasa, 15 Maret 2016

Artefak Langit Senja

Mantra subuh terucap gemetar
Barisan doa menjalar pada nadi
Tiada habis dimakan waktu
Semangat berdarah di setiap hamparan
Kulihat di kebun tidak luas tidak juga sempit
Oh, dia sahabatku sejak dahulu
Selalu mengusahakan pemanis hidup
Jarang orang mau berkenalan dengan sahabatku

Mantra dzuhur terucap gemetar
Barisan doa masih menjalar pada nadi
Aku terheran melihatnya. Lihat. Lihat lagi
Mungkinkah tidak pernah terdengar isaknya olehmu?
Ketegaran tak mampu memberontak keadilan
Masih juga orang tak mau berkenalan
Tuhan, kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia sahabatku. Dia sahabatku. Dia sahabatku  

Mantra asar. Kucari dia sudah tak bersuara
Barisan doa masih tetap menjalar pada nadi
Oh aku tahu, dia hanya bicara pada hati
Lisan sudah tidak lagi mampu mengujar
Tuhan, kulihat dia terkapar lemah
Dia bawa hasil tani untuk dinda kesayangan
Tuhan, kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia sahabatku. Dia sahabatku. Dia sahabatku

Sedari awan sampai bengi
Buliran keringat membasahi kebun tebu
Tuan yang kutahu kau amat wibawa dan bijaksana
Aduh suaraku hampir kering
Kuceritakan padamu tuan
Sedari subuh tak sebutirpun melewati kerongkongan
Hanya racikan hasil tani membasahinya
Meriak muka membasahi jiwanya

Kedermawananmu lebih dari aku seorang anak kecil
Kedermawananmu lebih dari sahabatku sang petani kecil
Kau bisa berikan sebanyak yang kamu mampu
Semampumu bukan semaumu
Hanya itu harapan dalam syair keadilan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar