Rabu, 16 Maret 2016

Nasihat Hening



senikmat kaldu pada urutan rasa yang membisu
tersisa sedikit cerita di titik-titik hujan jendela kamar
visual arus ketakutan menyiram wajah yang menelan
simbol keangkuhan Ijroil karena kebaktiannya

ia yang datang bersama kereta melintas tanpa izin
dari seseorang bahkan ribuan orang yang diangkut paksa
rekaman kematian selalu mengeja dengan alif ba ta nya
agar hujan malam ini menyadarkankan tentang nasihat hening
sedari jam dinding yang berdentang tepat pukul tiga dini hari

kuning dimiliki pisang dengan lekukkan senyumannya
dalam potongan bait pada sajak tentang warna
tapi dari semalam kereta Ijroil terus membising
tentang warna yang berakhir duka akan lembaran kuning
di halaman rumah terkibar menggeloranya

kekhawatiran tentang pisang dan lembaran yang berbeda
bekal dan pakaian belum sempat dirapikan menjadi alasan
hati belum sempat diolah menjadi alasan juga
jika cahaya fajar esok hari datang
kemana harus lari ketika terjuntai di pintu kubur?

Selasa, 15 Maret 2016

Pulau Panjang

Menengadah ke pancaran sinar
Masih di dermaga yang sepi
Tiba-tiba kerumunan orang datang
Dari banyak pulau
Untuk pulau panjang yang satu


Beberapa kapal kecil berlabuh
Mengawali keakraban di laut
Terlihat burung pelikan hinggap mencari ikan
Memotret kenangan dalam keabadian


Pengabdian untuk pulau panjang
Kisah cinta bukan romeo dan juliet
Anak-anak, alam, dan masyarakat

Di pulau panjang
Kisah cinta bukan romeo dan juliet
Terikat satu sama lain
Lewat canda tawa, senda, dan gurau


Di pulau panjang
Semua membentang
Pohon mangrove mengintip
Anak-anak yang berada di taman bacaan dekat masjid
Di pulau panjang
Percakapan terpatri  di ruangan isi kepala
Mendidih sampai ke daratan
Tangisan mengakhiri sebuah perjumpaan


Di pulau panjang
Cerita di atas surat-surat
Membentuk pesawat-pesawat  kertas
akan terbang ke pulau-pulau
Tapi masih terekam di otak
Pulau panjang membentang
Sama menuju satu muara
Kenangan bersama angan-angan

(Syair untuk anak-anak, taman bacaan, mangrove, dan alam di Pulau Panjang)

Syair Lembayung Senja


Lembayung senja memercikan nada pada kesenyapan
Bulan sampaikan syair nadi dari puteri dalam gemerlap
Bintang, saksi terima kata hati dalam lembaran kertas
Kutitikkan tetes bening di atas barisan doa untuk bunda
Tetapkan untuk mematri, mengeja, dan menabur butiran ayat cinta
dalam otak, dalam hati, dan dalam keriuhan syahdu di alamMu

Serabut kasih mengalirkan cinta sepanjang bengi dan awan
Serabut asa yang tak terpatahkan oleh asap serta aroma kepayahan
Serabut rasa tersalurkan dalam gumpalan hati sampai detik ini

Surga berada di telapak kakimu dalam sabda Rasulku
Bersamamu, Allah sampaikan keridaan juga kemurkaanNya
Syukurku berisyarat pada jarak bulan dan cahayanya
Senandung merdu dari sayup-sayup bibir terus terejakan

Kau beri tanpa letih tanpa tapi di tiap waktu untuk tiap tuju
kesaksian malam yang menceritakan
sederet doa untuk kami di keharibaan Ilahi

Ya Rabbi, citrakan rona cerah di wajahnya selalu
sampai keabadian menyaksikan
mahkota khusus terpasang di atas kepalanya
sebagai hadiah yang diceritakan puteri dalam syairnya

"Dari syair yang sederhana ini akan kuceritakan kisah cinta yang terpatri karena Allah. Dalam hati selalu berbaris doa dan harapan, untukmu mamah."

  

Artefak Langit Senja

Mantra subuh terucap gemetar
Barisan doa menjalar pada nadi
Tiada habis dimakan waktu
Semangat berdarah di setiap hamparan
Kulihat di kebun tidak luas tidak juga sempit
Oh, dia sahabatku sejak dahulu
Selalu mengusahakan pemanis hidup
Jarang orang mau berkenalan dengan sahabatku

Mantra dzuhur terucap gemetar
Barisan doa masih menjalar pada nadi
Aku terheran melihatnya. Lihat. Lihat lagi
Mungkinkah tidak pernah terdengar isaknya olehmu?
Ketegaran tak mampu memberontak keadilan
Masih juga orang tak mau berkenalan
Tuhan, kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia sahabatku. Dia sahabatku. Dia sahabatku  

Mantra asar. Kucari dia sudah tak bersuara
Barisan doa masih tetap menjalar pada nadi
Oh aku tahu, dia hanya bicara pada hati
Lisan sudah tidak lagi mampu mengujar
Tuhan, kulihat dia terkapar lemah
Dia bawa hasil tani untuk dinda kesayangan
Tuhan, kuteriakkan duka pada perampas hak dan keadilan
Dia sahabatku. Dia sahabatku. Dia sahabatku

Sedari awan sampai bengi
Buliran keringat membasahi kebun tebu
Tuan yang kutahu kau amat wibawa dan bijaksana
Aduh suaraku hampir kering
Kuceritakan padamu tuan
Sedari subuh tak sebutirpun melewati kerongkongan
Hanya racikan hasil tani membasahinya
Meriak muka membasahi jiwanya

Kedermawananmu lebih dari aku seorang anak kecil
Kedermawananmu lebih dari sahabatku sang petani kecil
Kau bisa berikan sebanyak yang kamu mampu
Semampumu bukan semaumu
Hanya itu harapan dalam syair keadilan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Lima Bait Tentang Warna

Bismillahirrahmaanirrahiim :)



Akan ku sampaikan padamu kisah pada "Lima Bait Tentang Warna"

1

Kalau merah warna hati 

Kalau kuning warna pisang

Kalau hijau warna damai 

Kalau biru warna laut 

Kalau ungu warna anggur 

Kalau coklat warna tanah

Kalau hitam warna gelap

Kalau putih warna terang

2

Kalau aku jatuh cinta

Kan kupilih kuning, biru, merah, hijau, coklat, ungu, dan putih

Bibirku menguning membentuk pisang 

Tersenyum. Mataku membiru membentuk laut

Bak air mata. Bukan apa-apa

Tersenyum sambil menangis haru

Rasaku memerah seperti mawar

Yang selalu tertanam dalam hati

Kurasakan damai senantiasa bila mendekat

Bersujud di atas tanah cinta

3

Kalau aku jatuh cinta 

Kan kupilih kuning, biru, merah, hijau, dan putih 

Bibirku menguning membentuk pisang 

Tersenyum. Mataku membiru membentuk laut 

Bak air mata. Bukan apa-apa 

Tersenyum sambil menangis haru 

Rasaku memerah seperti mawar

Yang selalu tertanam dalam hati

Shalawat terlantun akan terasa damai


4

Kalau aku jatuh cinta 

Kan kupilih kuning, biru, merah, ungu, dan putih

Bibirku menguning membentuk pisang 

Tersenyum. Mataku membiru membentuk laut 

Bak air mata. Bukan apa-apa 

Tersenyum sambil menangis haru

Terselip mawar dalam hati

Aku akan berupaya memberinya anggur

Dalam kebaktian dan kesenangan

5

Kalau aku jatuh cinta 

Kan kupilih kuning, biru, dan putih

Bibirku menguning membentuk pisang

Tersenyum. Mataku membiru membentuk laut 

Bak air mata. Bukan apa-apa

Tersenyum sambil menangis haru 

Terang benderang dalam surga

Cinta ini kusembunyikan sampai fajar tiba

                                                                                                              

Tangerang, 07 April 2014